Berita

Gus Yus “Mengabdi Untuk Ummat”

Menjadi pengasuh di sebuah pesantren tidak menjadikan Gus Yus abai terhadap lingkungan sosialnya. Kiai moderat ini tetap concern dan peduli pada ummat. Ini misalnya beliau buktikan dengan menjadi wakil Ketua Umum di Yayasan Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember. Waktu itu, ketuanya KH Sodiq Mahmud, SH. Seusai KH Sodiq Mahmud, Gus Yus kemudian didaulat menjadi ketua umumnya hingga sekarang. Alfan Jamil, anggota Pengurus Yayasan dan selaku Badan Pelaksana Teknis Yayasan Masjid ini,mengatakan bahwa sejak dipegang Gus Yus, banyak kemajuan kemajuan yang diperoleh. Secara kolegial, sang Ketua Umum Yayasan ini bersama yang lain, juga berhasil menempatkan Masjid Al Baitul Amien tidak semata mata sebagai ruang ibadah mahdIah, melainkan juga dengan aktifitas sosial kemasyarakatan.

Makanya, selama kepemimpinan kolegial beliau, Masjid Al Baitul Amien ramai dengan aktifitas sosial seperti penyaluran infak, shodaqah dan zakat. berbagai acara ceramah, diskusi dan seminar keagamaan juga acap kali digelar di tempat suci tersebut. Kendati tidak sepenuhnya dapat life in di Baitul Amien terutama karena frekuensi aktifitas politiknya yang tinggi , tapi beliau tetap berkomunikasi dalarn rangka koordinasi kegiatan masjid. ” Sejak lima atau enam tahun yang lalu, beliau memang sudah agak jarang di Masjid AlBaitul Amien. Tapi, beliau masih memantau kegiatan-kegiatan, baik lewat telpon atau SMS. Bahkan, ketika beliau ada di luar negeri. Ketika di tanah suci misalnya, beliau tetap pantau kami. Walau jauh, beliau masih tetap bertanggung jawab terhadap amanah masyarakat jelas Alfan Jamil yang juga dosen FISIP Universitas Jember.

Ketika di Masji Jami’ ini pula, Gus Yus pernah mengasuh pengajian yang kemudian dikenal dengan “Samadi” (studi antara Maghrib dan Isya). Tempat acara selalu diletakkan di Masjid Jami’ Baitul Amien. Ketuanya, saat itu, Soepawan, yang juga Direktur Bank Bumi Daya Cabang Jember. “Samadi”, saat itu, menjadi bentuk icon pengajian kelas menengah ke atas di kota Jember. Kalau di Jakarta, mungkin seperti Paramadina yang diasuh oleh Prof Dr. Nurcholis Madjid, meski ukuran Samadi jauh lebih kecil. Pengajian lainnya, juga beliau lakukan di RSUD Jember. Selain pengajian kelas menengah ini, beliau juga sibuk dengan ceramah agama di desa desa, kampung kampung dan di kota lain.

Ketika percikan gejolak tanah Jenggawah menjadi isu publik, bersama KH Lutfi Achmad, Gus Yus berjuang untuk mendapatkan hak tanah masyarakat daerah Jember selatan ini.” Betapa besar jasa Gus Yus saat rakyat Jenggawah memperjuangkan hak2 tanahnya. Hak2 rakyat diperjuangkan Gus Yus dengan baik, ” kutip sebuah koran lokal di kota tembakau ini. Dua kiai muda ini memang mondar mandir ke beberapa tempat untuk memberikan pengarahan, termasuk di Koramil Jenggawah dalam rangka dialog dengan Imam Utomo, Pangdam Brawijaya waktu itu. “Tanpa mengenal lelah, tugas yang memakan waktu, tenaga dan pikiran itu dijalaninya. Hasilnya, gejolak di Jember tidak sampai berlarut larut clan satu per satu masalah terselesaikan”, kenang Andung A Kurniawan, seorang wartawan Jawa Pos yang turut meliput berita kasus tanah Jenggawah, saat itu. Di tengah aktifitas yang padat itu, Gus Yus masih memiliki gagasan untuk membentuk LPAI, Lembaga Pembinaan Akhlak Islamiyah. Seperti diketahui, LPAI meru. pakan wadah berkumpulnya sejumlah kiai dari berbagai kalangan pesantren di Jember. Walau latar belakang politiknya berbecla, tapi dalarn wadah ini, mereka bisa disatukan. Di sana misalnya, ada KH Lutfi Achmad, KH Hamid Chasbullah, K H Sadid Jauhari, KH Washil Syarbini & kiai2 muda yg lain. Pada umumnya, mereka membahas problema yang berkembang di masyarakat. Pada sisi lain, Gus Yus juga aktif di Rabithathul Ma’ahid Islamiyah yang berpusat di Surabaya. Bahkann, suami Siti Rosyidah ini sempat menjadi wakil ketua RMI. Kawan akrabnya adalah Dr. Ali Haidar, yang juga dosen Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, KH Wahid Zaini, Pengasuh Ponpes Nurul Jadid Paiton Probolinggo (almarhum) serta KH Aziz Masyhuri, Denanyar Jornbang.

Namun, di sela sela kesibukan yang luar biasa ini, Gus Yus masih istiqomah mengurus pesantrennya. Beliau masih suka murok kitab kuning untuk para. santrinya. Selalu saja ada waktu luang yang tersedia untuk mengembangkan kapasitas keilmuan dan akhlak para. santrinya. Tidak hanya itu. Setiap Jum’at pagi, beliau juga menyelenggarakan pengajian umum. Berbagai kalangan, mulai birokrat, guru, tukang becak, pedagang, dan lain sebagainya, datang menghadiri pengajian ini. Ketika Gus Yus lebih sering ke Jakarta, beliau juga masih menyernpatkan diri untuk mengadakan pengajian Jum ‘at pagi. Meski lelah dan penat, senantiasa merasuki diri sang kiai.
Pengajian Jum’at yang beliau selenggarakan sesungguhnya mengikuti tradisi Kiai Hamid Pasuruan. Kiai keramat asal Pasuruan ini semasa hidupnya memang istiqomah memberikan pengajian di hari Ahad. Hanya, karena di pesantren Darus Sholah, pada hari Ahad digunakan untuk ro’an santri, maka Gus Yus mengubahnya di hari Jum’at. Pengajian rutin seminggusekali ini di Masjid Darus Sholah dilaksanakan sekitar pukul 05.30 WIB hingga 06.30. Layaknya pengajian di Kiai Hamid, pengajian Jum’at pagi ini disuguhi sekedar makanan untuk para hadirin yang datang. Gus Yus, sepertinya juga ingin menjadi seorang ahli shodaqah, seperti Kiai Hamid Pasuruan

Sumber: Gus Yus Dari Pesantren Ke Senayan, Halaman 28 – 33

Leave a Reply

Your email address will not be published.